Saat ini sudah mulai di kembangkan lagi sistem Pengembangan Pertanian Organik karena sudah rusaknya tanah pertanian kita. Sebelum membahas Pengembangan Pertanian Organik baiklah kita bahas Sistem pertanian an organ atau konvensional.
Sistem Pertanian Konvensional
Sistem pertanian tradisional, meskipun akrab lingkungan tetapi tidak mampu mengimbangi laju kebutuhan pangan dan sandang yang meningkat lebih tajam dibandingkan dengan laju pertambahan penduduk. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak temuan-temuan baru yang kemudian menggeser sistem tradisional menjadi sistem pertanian konvensional.
Sistem pertanian konvensional terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara global, khususnya di bidang pertanian. Sebagai contoh, produksi gandum India berlipat tiga kali dalam kurun waktu 20 tahun, Columbia mampu meningkatkan produksi padi sampai dua kali lipat selama 5 tahun, dan Indonesia mampu berswasembada pangan (terutama beras) sejak 1983 hingga 1997. Tetapi sistem pertanian konvensional tidak terlepas dari resiko dampak negatif. Meningkatnya kebutuhan pangan seiring laju pertambahan penduduk, menuntut peningkatan penggunaan bahan kimia pertanian seperti pupuk dan pestisida.
Pertanian Konvensional Cenderung Menggunakan Masukan dari Luar
- Beban lingkungan
- Ketergantungan masukan dari luar tinggi
Schaller (1993) menyebutkan beberapa dampak negatif dari sistem pertanian konvensional:
- Pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian dan sedimen.
- Membahayakan kesehatan manusia dan hewan, baik karena pestisida maupun bahan aditif pakan.
- Pengaruh negatif senyawa kimia pertanian tersebut pada mutu dan kesehatan makanan.
- Penurunan keanekaragaman hayati termasuk sumber genetik flora dan fauna yang merupakan modal utama pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).
- Perusakan dan pembunuhan satwa liar, lebah madu, dan jasad berguna lainnya.
- Meningkatnya daya ketahanan organisme pengganggu terhadap pestisida.
- Merosotnya daya produktivitas lahan karena erosi, pemadatan lahan, dan berkurangnya bahan organik.
- Ketergantungan yang makin kuat terhadap sumber daya alam tidak terbaharui (non-renewable natural resources).
- Resiko kesehatan dan keamanan manusia pelaku pekerjaan pertanian.
Jelaslah bila kegiatan pertanian konvensional anorganik tidak dikurangi, maka lingkungan hidup akan semakin merosot kualitasnya. Biaya produksi sarana pertanian konvensional pun akan semakin mahal, sehingga sistem pertanian tersebut tidak akan bermanfaat lagi.
Pertanian Organik
Sistem pertanian organik ini berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi dengan memperhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan kualitas yang baik bagi hasil pertanian maupun lingkungan.- Menghasilkan bahan pangan dengan kualitas nutrisi tinggi serta dalam jumlah cukup.
- Melaksanakan interaksi efektif dengan sistem dan daur alamiah yang mendukung semua bentuk kehidupan yang ada.
- Mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam sistem usaha tani dengan mengaktifkan kehidupan jasad renik, flora dan fauna, tanah, tanaman serta hewan.
- Memelihara serta meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
- Menggunakan sebanyak mungkin sumber-sumber terbarui yang berasal dari sistem usaha tani itu sendiri.
- Memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didaur ulang baik di dalam maupun di luar usaha tani.
- Menciptakan keadaan yang memungkinkan ternak hidup sesuai dengan perilakunya yang hakiki.
- Membatasi terjadinya semua bentuk pencemaran lingkungan yang mungkin dihasilkan oleh kegiatan pertanian.
- Mempertahankan keanekaragaman hayati termasuk pelestarian habitat tanaman dan hewan.
- Memberikan jaminan yang semakin baik bagi para produsen pertanian (terutama petani) dengan kehidupan yang lebih sesuai dengan hak asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar serta memperoleh penghasilan dan kepuasan kerja, termasuk lingkungan kerja yang aman dan sehat.
- Mempertimbangkan dampak yang lebih luas dari kegiatan usaha tani terhadap kondisi fisik dan sosial (Untung, 1997).
Pada prinsipnya pertanian organik bersahabat dan selaras dengan lingkungan Merupakan sistem pertanian yang efisien apabila dilihat dari perbandingan antara output persatuan unit input, meskipun dilihat dari output perhektarnya masih lebih rendah dari pada sistem pertanian konvensional.
Pertanian Organik dengan Siklus Unsur Tertutup
- Memperbaiki struktur tanah dan daya simpan air
- Tidak ada pencemaran air
Ekosistem Pertanian
Ekosistem pertanian adalah jaringan kompleks yang menghubungkan hewan, tumbuhan dengan bentuk kehidupan lainnya pada lingkungan pertanian.Jaring-jaring / Rantai Makanan Sederhana
Komponen-komponen biota dari setiap ekosistem berperan sebagai rantai-rantai hara atau rantai makanan (food chains). Hara yang diambil oleh tumbuhan seimbang dengan hara yang kembali ke tanah dalam bentuk bagian-bagian tumbuhan mati dan hara tumbuhan hidup yang terbasuh oleh air hujan (Croall dan William, 1991).
Petani yang menerapkan metode pertanian ekologis (organik) harus menguasai teknik-teknik yang memungkinkan terbentuknya ekosistem baru serta berkelanjutan, mendukung aliran energi secara alami sesuai dengan cara kerja alam. Untuk itu perlu diketahui beberapa hal tentang:
- Tanaman yang dapat tumbuh berdekatan
- Tanaman dan bakteri yang dapat mengikat nitrogen
- Tanaman yang baik bila ditanam berurutan
- Bagaimana hewan bisa berkembang tanpa anti biotik dan hormon
- Bagaimana benalu dan hama bisa teratasi secara alami
- Bagaimana nitrogen dapat dipisahkan dari pupuk dan buangan limbah rumah tangga
- Bagaimana menjaga agar hama dan penyakit tanaman tetap seimbang di alam
Kehidupan di Dalam tanah
Tanah mempunyai peranan penting dalam perombakan bahan organik. Cacing-cacing, serangga- serangga kecil, dan mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang bertanggung jawab dalam proses pembusukan, terdapat dalam tanah. Organisme tersebut bisa mendapatkan energi dari bahan organik yang telah mati dan menguraikan bahan tersebut menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuh-tumbuhan. Organisme tanah mengubah bahan tanaman yang sudah mati menjadi nutrisi yang berharga.Cara Hidup Cacing Tanah
Hewan-hewan tanah hidup di ruang hampa di tanah yang kadang-kadang hewan-hewan tersebut menggali sendiri tempat hidupnya (cacing). Beberapa mikroorganisme memerlukan air terikat yang dipakai untuk bergerak, namun ada yang hanya perlu kelembaban saja (contohnya cacing, fungi). Mikroorganisme membutuhkan oksigen, karena itu kalau kondisi tanah padat atau terlalu berlumpur mereka tidak bisa hidup.
Beban Tanah
Ada beberapa pengaruh sampingan dari kegiatan manusia terhadap tanah yang harus diperhatikan, seperti:
- Teknis/mekanis: Pembangunan perumahan baru, konstruksi jalan, pertambangan bijih besi, pelapukan tumbuh-tumbuhan.
- Fisik: Mekanisasi di pertanian (struktur remah rusak), perubahan iklim (efek rumah kaca, periode tandus).
- Kimia: Tempat sampah, pupuk kimia, pestisida, gas kotor, zat yang mencair oleh karena hujan.
Akibat-akibat buruk dari kegiatan tersebut adalah terjadinya perubahan kehidupan seluruh makhluk hidup sampai mereka mati. Contohnya: erosi, pelumpuran tanah, penurunan kesuburan tanah
Akibat langsung yang kita rasakan kini adalah turunnya kualitas hidup, hingga pada tingkat yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Alasan Mengapa Organik
Kita menghadapi kenyataan bahwa kita terlahir di sebuah zaman yang centang-perenang! Lingkungan yang rusak parah oleh sampah, plastik, pestisida, limbah pabrik, asap kendaraan, dan berbagai sumber pencemar di air, tanah dan udara, telah menghacurkan keharmonisan hubungan timbal balik antara manusia dan makhluk lain ciptaan-Nya. Penambahan penduduk yang sangat cepat menciptakan beban berat bagi alam diluar kemampuan daya dukungnya.Akibat langsung yang kita rasakan kini adalah turunnya kualitas hidup, hingga pada tingkat yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Sebagian kita sulit mendapat air bersih dan sehat. Tempat tinggal dengan udara bebas polusi sangat sulit di dapat. Makanan bercampur bahan additive berbahaya di mana-mana. Sayur, buah, hasil pertanian dan peternakan terkontaminasi racun pestisida, pupuk kimia dan ceceran limbah dari sekitarnya.
“Kembali ke Alam” adalah seruan yang kadang hanya terdengar sayup-sayup, bahkan seringkali diartikan dengan sangat dangkal.
Gerakan Organik sebagai langkah kembali ke alam adalah sebuah gerakan perbaikan mutu hidup secara holistik. Organik bukan sekedar bertani tanpa pupuk dan pestisida kimia. Organik adalah tidak mencemari lingkungan dan tidak pula tubuh kita. Organik adalah mengembalikan ke alam apa-apa yang telah kita ambil darinya. Organik adalah tentang sebuah usaha membangun yang berkelanjutan. Dan terlebih lagi, Organik adalah berarti tidak mencuri masa depan bumi dan generasi mendatang.
“Kembali ke Alam” adalah seruan yang kadang hanya terdengar sayup-sayup, bahkan seringkali diartikan dengan sangat dangkal.
Gerakan Organik sebagai langkah kembali ke alam adalah sebuah gerakan perbaikan mutu hidup secara holistik. Organik bukan sekedar bertani tanpa pupuk dan pestisida kimia. Organik adalah tidak mencemari lingkungan dan tidak pula tubuh kita. Organik adalah mengembalikan ke alam apa-apa yang telah kita ambil darinya. Organik adalah tentang sebuah usaha membangun yang berkelanjutan. Dan terlebih lagi, Organik adalah berarti tidak mencuri masa depan bumi dan generasi mendatang.
Pertanian organik melindungi tanah
Pengomposan adalah suatu proses penguraian bahan organik, seperti sisa-sisa tanaman, sampah dapur, dan kotoran hewan menjadi pupuk kompos. Kompos atau pupuk organik merupakan salah satu bahan utama dalam pertanian organik. Kompos mempunyai beberapa manfaat terhadap kondisi tanah yakni:
Pengomposan adalah suatu proses penguraian bahan organik, seperti sisa-sisa tanaman, sampah dapur, dan kotoran hewan menjadi pupuk kompos. Kompos atau pupuk organik merupakan salah satu bahan utama dalam pertanian organik. Kompos mempunyai beberapa manfaat terhadap kondisi tanah yakni:
- Memperbaiki tanah berpasir maupun tanah liat menjadi berstruktur baik
- Mengembalikan unsur hara yang diambil oleh tanaman
- Memberikan nutrisi kepada organisme yang hidup dalam tanah
Pemulsaan adalah penutupan permukaan tanah dengan bahan-bahan sisa tanaman (serasah) seperti potongan-potongan daun, ranting, dan serbuk gergaji. Hasil akhir dari proses ini adalah terbentuknya pupuk serasah. Pemulsaan dan pupuk serasah berfungsi untuk:
- Menghemat air
- Mencegah erosi
- Menghambat pertumbuhan gulma
- Menjaga keseimbangan suhu tanah dan lapisan udara di dekat tanah sehingga tanah tidak menjadi terlalu panas.
- Menjaga sari-sari makanan dalam tanah terhadap pencucian dan penghanyutan oleh air hujan.
- Menjaga kondisi tanah tetap remah dan tidak cepat padat.
- Mencegah penyakit tanaman yang timbul akibat percikan tanah oleh air hujan.
- Menjadi sumber bunga tanah atau humus.
- Meningkatkan mutu hasil pada tanaman misalnya nanas, dan sayuran.
- Memperlancar kegiatan jasad renik tanah seperti cacing tanah yang sangat membantu petani alam penyuburan tanah (Annonimous, 1999)
Serangga Hama dan Musuh Alami
Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam, sebagai contoh Wereng Coklat betina memproduksi banyak turunan, tetapi karena aksi musuh alami (predator-predator, parasit-parasit, dan penyakit), hanya sekitar 1 atau 2 ekor bertahan hidup setelah satu generasi. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida yang hanya satu macam.Perbedaan Sistem Penanaman pada Pertanian Organik dengan Pertanian Konvensional
No
|
Proses
|
Pertanian Konvensional
|
Pertanian Organik
|
1.
|
Persiapan benih
|
· Benih berasal dari rekayasa genetik
|
· Benih berasal dari pertumbuhan tanaman yang alami
|
2.
|
Pengolahan tanah
|
· Sering menggunakan traktor mekanisasi
· Maksimum pengolahan tanah menyebabkan pemadatan tanah dan
matinya beberapa organisme
|
· Memperkecil kerusakan tanah oleh traktor
· Minimum pengolahan tanah memacu perkembangbiakan organisme
tanah dan aerasi tanah terjaga
|
3.
|
Pesemaian/ persiapan bibit
|
· Bibit sering diperlakukan dengan bahan kimia sintetik
(pestisida, pupuk kimia)
|
· Pertumbuhan bibit dibuat secara alami
|
4.
|
Penanaman
|
· Monokultur, hanya menanam satu jenis tanaman,
· Rotasi tanaman dilakukan secara total dari satu jenis
tanaman tersebut
· Tidak ada kombinasi tanaman
|
· Multikultur
· Rotasi tanaman secara bertahap
· Kombinasi tanaman dalam satu luasan lahan tertentu
· Companion planting (tanaman pendamping)
· Penanaman tanaman habitat predator, tanaman pagar, penolak
hama, penarik hama
· Tanaman pupuk hijau pestisida hayati, obat-obatan
|
5.
|
Pengairan/ penyiraman tanaman
|
· Dapat menggunakan sumber air dari mana saja
|
· Menggunakan air yang bebas dari bahan kimia sintetis
|
6.
|
Pemupukan
|
· Penggunaan pupuk kimia lebih dominan
|
· Menggunakan pupuk organik
|
7.
|
Pengendalian hama, penyakit dan
gulma
|
· Penggunaan pestisida kimia lebih dominan
|
· Kunci pengendalian hama penyakit berdasarkan keseimbangan
alami
|
8.
|
Panen dan pasca panen
|
· Mengandung residu bahan kimia sintetis
· Perlakuan pasca panen dengan bahan kimia
|
· Hasil panen sehat bagi konsumen
· Tidak diperlakukan dengan bahan kimia
|
Kombinasi Tanaman
Kombinasi tanaman adalah gabungan dua atau lebih tanaman dalam satu lahan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penanaman tanaman campuran atau kombinasi tanaman adalah sebagai berikut: umur tanaman, bentuk tubuh tanaman, toleransi tanaman terhadap cahaya dan naungan, kebutuhan nutrisi, bentuk perakaran, dan companion planting.Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah perlindungan tanaman produktif :
- Tanaman Perangkap Hama berfungsi menarik hama agar menyerang tanaman perangkap, dan menjauhi tanaman utama sehingga kerusakan tanaman dapat dikurangi. Hama yang mengumpul dapat ditangkap untuk makanan ikan, sedangkan tanaman perangkapnya sendiri yang rusak oleh hama dapat dicabut lalu dibakar.
- Tanaman Penolak Hama akan melindungi tanaman di dekatnya dengan bau-bauan yang dikeluarkannya, bentuk dan warna daun/bunga yang khas yang tidak disukai hama, sehingga hama akan menjauh dari tanaman utama.
- Penghalau Angin (Windbreaker) mengurangi resiko rebahnya tanaman oleh angin yang kencang, disamping itu berfungsi pula sebagai habitat predator, untuk pakan ternak, atau sebagai pestisida hayati.
Kemasyarakatan
Sistem pertanian dengan menggunakan metode tumpang sari ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian secara berkesinambungan. Karena tanaman-tanaman yang bervariasi dan ditanam berturut-turut lebih ekonomis dalam penggunaan unsur hara dibandingkan pada sistim monokultur. Dan dengan tidak menggunakannya bahan kimia sintetis maka kesehatan para petani, kelompok orang yang mengusahakan pertanian organik tersebut, dan konsumen hasil pertanian organik terjamin bebas dari pencemaran. Biaya produksi pun dapat ditekan karena tidak menggunakan bahan kimia yang harganya semakin mahal. Banyak petani organik mampu menjual hasil bumi mereka dengan harga yang sama dengan hasil petani kimia (konvensional), bahkan banyak pula yang menemukan pembeli yang bersedia membayar lebih mahal.Pengembalian Kesuburan Tanah
Berbicara mengenai kesuburan tanah tentunya tidak terlepas dari masalah pupuk. Pupuk yang baik adalah pupuk yang dapat memberikan kesuburan tanah secara berkesinambungan dan dapat meningkatkan produktifitas tanah itu sendiri. Pupuk organik yang berasal dari limbah pertanian dan limbah peternakan adalah pupuk yang dapat meningkatkan kesuburan tanah secara terus menerus. Sedangkan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tidak dapat meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan karena pupuk kimia dapat merusak tanah dalam jangka waktu tertentu.Alam di sekitar kita telah menyediakan sarana bagi petani untuk membuat pupuk yang bermutu guna meningkatkan kesuburan tanah. Para petani jaman dulu (sebelum Revolusi Hijau) telah memberikan contoh yang cukup baik mengenai teknik teknik pembuatan pupuk secara alami. Sekarang, adalah tugas kita untuk memadukan antara teknik teknik tradisional dengan teknologi baru agar menghasilkan pupuk organik yang berkualitas. Sebagai contoh, pembuatan kompos secara alami (tradisional) membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu antara 3 6 butan. Akibatnya, kompos baru dapat digunakan sebagai pupuk tanaman setelah masa tersebut. Tetapi sekarang dengan adanya metode penambahan 'mikroba yang menguntungkan' (effective microorganisms), teknik pembuatan kompos secara alami (tradisional) dapat diperbaharui sehingga proses pengomposan dapat berlangsung secara lebih cepat dengan hasil akhir yang berkualitas lebih baik. Adapun standar waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kompos dengan teknologi penambahan mikroba ini jauh lebih singkat daripada teknik pembuatan kompos secara alami (tradisional), yakni sekitar 4 6 minggu. Bahkan, jika mikroba yang ditambahkan berupa jenis yang sangat 'menguntungkan', kompos sudah dapat dihasilkan dalam waktu 3 5 hari saja.
Sebenarnya, kompos bukan merupakan barang yang baru di dalam dunia pertanian. Tetapi, masih banyak petani yang tidak mengetahui pentingnya proses pengomposan limbah organik bagi kesuburan tanah. Beberapa petani menilai bahwa pengomposan merupakan pekerjaan yang mahal, rumit, dan sia sia. Bahkan, ada petani yang beranggapan bahwa praktek membakar jerami lebih baik daripada praktek pengomposan jerami untuk mengatasi penumpukan limbah pertanian di lahan mereka. Sedangkan kalangan petani yang telah mengerti tentang manfaat dari bahan bahan organik yang telah dikomposkan, beranggapan bahwa praktek pengomposan yang baik dan benar dapat menghasilkan pupuk organik yang dapat menggantikan pupuk kimia secara bertahap. Selanjutnya, penggunaan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia akan meringankan biaya produksi petani dengan cara melepaskan ketergantungan mereka kepada pupuk kimia yang harganya semakin lama semakin mahal.
Salah satu Solusi
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi Petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat kita saksikan, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya anorganik) di laboratorium.
Kembali ke alam adalah solusi tepat yang harus kita kerjakan sekarang ini. Paradigma pertanian kita harus kita ubah secara radikal. Kita harus kembali pada konsep pertanian kita di tahun 1930-an. Khususnya mengenai penggunaan pupuk dan pembasmi hama dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminimalisasi sampai tingkat yang mendekati 0. Penggunaan pupuk kita kembalikan lagi pada penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau (pupuk organik).
Memang mungkin akan timbul pertanyaan mengenai efisiensi. Karena untuk kembali ke pupuk kandang dan pupuk hijau, Petani kita akan punya alasan keengganan yang cukup mendasar. Penggunaan pupuk kandang akan menyedot jumlah tenaga kerja dan waktu yang banyak karena untuk aplikasi pupuk kandang di lahan, dibutuhkan jumlah pupuk kandang yang sangat banyak (bisa 20 kali lebih banyak dari pupuk kimia). Tentu saja ini berhubungan erat dengan hitung-hitungan ekonomis. Pertanian seperti ini akan menjadi "high cost economy". Dan ini harus dicarikan solusinya.
Dengan semakin majunya teknologi pertanian dan mikro biologi, sebetulnya saat ini sudah ada pupuk organik yang dosis aplikasinya sama dengan pupuk kimia. Jadi petani tidak perlu lagi membawa berpuluh-puluh ton pupuk kandang untuk memupuk lahan seluas 1 hektare (dan pupuk ini sekarang sudah bisa diproduksi oleh orang Indonesia).
Sebagai contoh, untuk memupuk areal penanaman padi seluas 1 hektare, hanya dibutuhkan 10-15 botol (5 - 7,5 Kg) pupuk organik untuk satu kali musim tanam. Sedangkan untuk tanaman sayuran pada lahan kering, hanya dibutuhkan 10 s/d 20 botol pupuk organik untuk satu kali musim tanam per hektare-nya (tidak seperti aplikasi pupuk kandang, yang biasanya menghabiskan 15 ton s/d 20 ton pupuk kandang untuk setiap kali musim tanam per hektare-nya).
Beberapa contoh pupuk organik karya anak bangsa adalah produk yang dikeluarkan oleh PT. Natural Nusantara, diantaranya; Pupuk Organik Cair (POC NASA), Pupuk Organik Padat (POP Supernasa), Hormonik, PESTONA (Pestisida Organik), GLIO (Fungisida organik/Agensy Hayati), dan produk untuk peternakan, perikanan, serta kesehatan bagi manusia.
Kembali ke alam adalah solusi tepat yang harus kita kerjakan sekarang ini. Paradigma pertanian kita harus kita ubah secara radikal. Kita harus kembali pada konsep pertanian kita di tahun 1930-an. Khususnya mengenai penggunaan pupuk dan pembasmi hama dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminimalisasi sampai tingkat yang mendekati 0. Penggunaan pupuk kita kembalikan lagi pada penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau (pupuk organik).
Memang mungkin akan timbul pertanyaan mengenai efisiensi. Karena untuk kembali ke pupuk kandang dan pupuk hijau, Petani kita akan punya alasan keengganan yang cukup mendasar. Penggunaan pupuk kandang akan menyedot jumlah tenaga kerja dan waktu yang banyak karena untuk aplikasi pupuk kandang di lahan, dibutuhkan jumlah pupuk kandang yang sangat banyak (bisa 20 kali lebih banyak dari pupuk kimia). Tentu saja ini berhubungan erat dengan hitung-hitungan ekonomis. Pertanian seperti ini akan menjadi "high cost economy". Dan ini harus dicarikan solusinya.
Dengan semakin majunya teknologi pertanian dan mikro biologi, sebetulnya saat ini sudah ada pupuk organik yang dosis aplikasinya sama dengan pupuk kimia. Jadi petani tidak perlu lagi membawa berpuluh-puluh ton pupuk kandang untuk memupuk lahan seluas 1 hektare (dan pupuk ini sekarang sudah bisa diproduksi oleh orang Indonesia).
Sebagai contoh, untuk memupuk areal penanaman padi seluas 1 hektare, hanya dibutuhkan 10-15 botol (5 - 7,5 Kg) pupuk organik untuk satu kali musim tanam. Sedangkan untuk tanaman sayuran pada lahan kering, hanya dibutuhkan 10 s/d 20 botol pupuk organik untuk satu kali musim tanam per hektare-nya (tidak seperti aplikasi pupuk kandang, yang biasanya menghabiskan 15 ton s/d 20 ton pupuk kandang untuk setiap kali musim tanam per hektare-nya).
Beberapa contoh pupuk organik karya anak bangsa adalah produk yang dikeluarkan oleh PT. Natural Nusantara, diantaranya; Pupuk Organik Cair (POC NASA), Pupuk Organik Padat (POP Supernasa), Hormonik, PESTONA (Pestisida Organik), GLIO (Fungisida organik/Agensy Hayati), dan produk untuk peternakan, perikanan, serta kesehatan bagi manusia.
FILOSOFI NATURAL NUSANTARA
Nusantara ibarat rangkaian zamrud di katulistiwa. Demikian kata-kata yang menggambarkan betapa berharganya Nusantara yang rangkaian pulau-pulaunya diibaratkan batu mulia paling berharga. Sebuah ungkapan yang sangat bermakna.
Ungkapan di atas disadari betul maknanya oleh para pejuang kita jauh sebelum Belanda hadir 14 abad yang lalu, pejuang Sriwijaya mewujudkan rangkaian rantai manikam menjadi sebuah untaian yang sangat indah yaitu Indonesia I. Tujuh abad yang lalu pejuang Majapahit merangkainya kembali dengan mewujudkan Indonesia II. Setengah abad yang lalu bangsa ini sekali lagi mengikrarkan diri kembali mewujudkan Indonesia menjadi Indonesia yang berabad-abad lalu telah dirintis oleh nenek moyang kita.
PT. Natural Nusantara berdiri karena keinginan kami untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan alam Indonesia yang dari sisi jumlah maupun jenisnya beraneka macam. Menurut kami itulah modal terbesar bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Visi kami menuju Indonesia Makmur raya kami wujudkan dalam misi kami mengelola Karya Anak Bangsa Untuk Indonesia, sesuai dengan semboyan kami Bersama Menuju Masa Depan Lebih baik.
Kami sadar bahwa diperlukan energi yang sangat besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut sendirian. Oleh karena itu kami berusaha membangun sinergi, menjalin simpul, dengan siapapun yang sepakat dengan apa yang kami cita-citakan.
Tak seorangpun dapat menyangkal bahwa Indonesia adalah negara agraris dan maritime terluas di dunia. Luas lahan pertanian aktif lebih dari 50.000.000 (lima puluh juta) hektar dan panjang pantai lebih dari 80.000 km, menjadikan Indonesia pemilik pantai terpanjang di dunia. Dengan potensi yang luar biasa, adalah sangat layak Indonesia makmur raya menjadi cita-cita.
Lebih dari 3 abad lalu negara kita telah menjadi incaran bangsa-bangsa lain yang mencium oroma rempah-rempah kita. Adalah naif jika Belanda dan Portugis bahkan Inggris jauh-jauh berebut Nusantara jika bukan karena kekayaan hasil pertaniannya. Kekayaan yang dapat menjadikan Belanda dan Portugis negara yang dikenal miskin di Eropa menjadi negara maju.
Belanda membuktikan bahwa dengan mengelola pertanian Nusantara dengan benar, maka kemakmuran yang didapat. Di tangan bangsa sendiri produksi tanaman tidak mampu mencapai potensinya, kualitas rendah dan lingkungan rusak serta keberlanjutan dipertanyakan. Setelah berhasil swasembada beras tahun 1984, 5 tahun kemudian Indonesia menjadi negara pengimpor beras, dan 10 tahun kemudian hampir semua produk-produk pertanian asing masuk membanjiri Indonesia. Maka mengalirlah rupiah ke luar negeri dan petani kita menjadi miskin.
Persoalan kualitas, jumlah dan keberlangsungan hasil produksi pertanian hasil petani Indonesia selalu menjadi tantangan. Penyebab utama adalah pengelolaan teknologi yang mahal dan tidak tepat guna. Kita seringkali menganggap bahwa teknologi yang datang dari luar negeri selalu lebih baik dari teknologi hasil karya bangsa sendiri.
Kami mengelola teknologi hasil karya anak bangsa yang mampu mendukung peningkatan kualitas, kuantitas dan keberlanjutan pertanian Indonesia. Yaitu Teknologi yang menghasilkan tanaman padi dengan anakan 54 anakan bahkan lebih, sudah lebih 15 ton per hektar, cabai merah panjang 25 cm, semangka bobot 15 kg per buah, ayam potong dipanen 1 minggu lebih cepat, Ikan Bandeng dengan bobot 3 ekor per kg, dan masih banyak lagi bukti pencapaian hasil di seluruh Nusantara, yang membuka peluang kembalinya kejayaan pertanian Indonesia, yang pada akhirnya tercapai Indonesia Makmur Raya.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, “Teknologi Pembuatan Pupuk Organik (Kompos) dari Sampah Kota”, Jakarta 1998.
Kardinan, Agus Ir, M.Sc, “Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi”, Penebar Swadaya, Jakarta 2002.
Mulat, Tri, “Pertanian di Internet”, Penebar Swadaya, Jakarta 2003.
Setiawan, Dharma Ir, “Teknik Budidaya Pertanian Organik dan Peluang Pasar”, Makalah penyuluhan oleh MAPORINA.
Suhandi, Ir, “Pemanfaatan Limbah Organik untuk Pupuk”, Makalah.
Utoyo, Ir. “Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Dengan Pemanfaatan Agensia Hayati”, Makalah
Distributor Inti Nasa, Support tools Diamond Networ PT. Natural Nusantara
www.amanishop.com
www.wwfcanada.org
www.ifoam.org
Ungkapan di atas disadari betul maknanya oleh para pejuang kita jauh sebelum Belanda hadir 14 abad yang lalu, pejuang Sriwijaya mewujudkan rangkaian rantai manikam menjadi sebuah untaian yang sangat indah yaitu Indonesia I. Tujuh abad yang lalu pejuang Majapahit merangkainya kembali dengan mewujudkan Indonesia II. Setengah abad yang lalu bangsa ini sekali lagi mengikrarkan diri kembali mewujudkan Indonesia menjadi Indonesia yang berabad-abad lalu telah dirintis oleh nenek moyang kita.
PT. Natural Nusantara berdiri karena keinginan kami untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan alam Indonesia yang dari sisi jumlah maupun jenisnya beraneka macam. Menurut kami itulah modal terbesar bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Visi kami menuju Indonesia Makmur raya kami wujudkan dalam misi kami mengelola Karya Anak Bangsa Untuk Indonesia, sesuai dengan semboyan kami Bersama Menuju Masa Depan Lebih baik.
Kami sadar bahwa diperlukan energi yang sangat besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut sendirian. Oleh karena itu kami berusaha membangun sinergi, menjalin simpul, dengan siapapun yang sepakat dengan apa yang kami cita-citakan.
Tak seorangpun dapat menyangkal bahwa Indonesia adalah negara agraris dan maritime terluas di dunia. Luas lahan pertanian aktif lebih dari 50.000.000 (lima puluh juta) hektar dan panjang pantai lebih dari 80.000 km, menjadikan Indonesia pemilik pantai terpanjang di dunia. Dengan potensi yang luar biasa, adalah sangat layak Indonesia makmur raya menjadi cita-cita.
Lebih dari 3 abad lalu negara kita telah menjadi incaran bangsa-bangsa lain yang mencium oroma rempah-rempah kita. Adalah naif jika Belanda dan Portugis bahkan Inggris jauh-jauh berebut Nusantara jika bukan karena kekayaan hasil pertaniannya. Kekayaan yang dapat menjadikan Belanda dan Portugis negara yang dikenal miskin di Eropa menjadi negara maju.
Belanda membuktikan bahwa dengan mengelola pertanian Nusantara dengan benar, maka kemakmuran yang didapat. Di tangan bangsa sendiri produksi tanaman tidak mampu mencapai potensinya, kualitas rendah dan lingkungan rusak serta keberlanjutan dipertanyakan. Setelah berhasil swasembada beras tahun 1984, 5 tahun kemudian Indonesia menjadi negara pengimpor beras, dan 10 tahun kemudian hampir semua produk-produk pertanian asing masuk membanjiri Indonesia. Maka mengalirlah rupiah ke luar negeri dan petani kita menjadi miskin.
Persoalan kualitas, jumlah dan keberlangsungan hasil produksi pertanian hasil petani Indonesia selalu menjadi tantangan. Penyebab utama adalah pengelolaan teknologi yang mahal dan tidak tepat guna. Kita seringkali menganggap bahwa teknologi yang datang dari luar negeri selalu lebih baik dari teknologi hasil karya bangsa sendiri.
Kami mengelola teknologi hasil karya anak bangsa yang mampu mendukung peningkatan kualitas, kuantitas dan keberlanjutan pertanian Indonesia. Yaitu Teknologi yang menghasilkan tanaman padi dengan anakan 54 anakan bahkan lebih, sudah lebih 15 ton per hektar, cabai merah panjang 25 cm, semangka bobot 15 kg per buah, ayam potong dipanen 1 minggu lebih cepat, Ikan Bandeng dengan bobot 3 ekor per kg, dan masih banyak lagi bukti pencapaian hasil di seluruh Nusantara, yang membuka peluang kembalinya kejayaan pertanian Indonesia, yang pada akhirnya tercapai Indonesia Makmur Raya.
PUSTAKA
Andoko, Agus Drs, “Budi Daya Padi Secara Organik”, Penebar Swadaya, Jakarta 2002.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, “Teknologi Pembuatan Pupuk Organik (Kompos) dari Sampah Kota”, Jakarta 1998.
Kardinan, Agus Ir, M.Sc, “Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi”, Penebar Swadaya, Jakarta 2002.
Mulat, Tri, “Pertanian di Internet”, Penebar Swadaya, Jakarta 2003.
Setiawan, Dharma Ir, “Teknik Budidaya Pertanian Organik dan Peluang Pasar”, Makalah penyuluhan oleh MAPORINA.
Suhandi, Ir, “Pemanfaatan Limbah Organik untuk Pupuk”, Makalah.
Utoyo, Ir. “Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Dengan Pemanfaatan Agensia Hayati”, Makalah
Distributor Inti Nasa, Support tools Diamond Networ PT. Natural Nusantara
www.amanishop.com
www.wwfcanada.org
www.ifoam.org


Tanah di daerah saya sudah pada keras, alhamdulillah ada info bagus seprti ini, thnks
BalasHapus