Kamis, 19 September 2019

Hormon dan Pertumbuhan Tanaman

HORMON DAN PERTUMBUHAN TANAMAN


Hormon sering juga disebut zat pengatur tumbuh. Saya tidak ingin memperdebatkan istilah. Tapi saya berusaha menguraikan penerapan hormone pada tanaman dan kesalahan yang ada di masyarakat yang perlu diluruskan pada proporsi yang benar.  Sehingga pemanfaatan hormon dalam budidaya tanaman akan memberikan dampak yang lebih optimal.

Hormon

Adalah suatu zat yang dalam jumlah sangat kecil tapi mampu mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hormon tersebut tidak ikut di dalam proses metabolisme.  Berbeda dengan unsur hara atau zat makanan bagi tumbuhan adalah suatu zat yang mempengaruhi pertumbuhan dan ikut / menjadi bagian /komponen produk yang dihasilkan.  Oleh sebab itulah hormon dapat berpengaruh walaupun dalam jumlah yang sedikit
Secara alamiah setiap tumbuhan mempunyai kandungan hormon dalam komposisi dan konsentrasi yang berbeda-beda sesuai dengan karakter gen dari masing-masing jenis. Setiap tumbuhan spesifika kandungan hormonnya.
Secara garis besar hormon dikelompokkan menjadi 3 kelompok hormon yaitu:

  1. Sitokinin, adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi utama mensupport pertumbuhan tunas. Sumber dihasilkan hormon sitokinin adalah diujung akar.
  2. Auksin, adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi utama mensupport pertumbuhan akar. Sumber dihasilkannya auksin adalah diujung tunas.
  3. Giberelin adalah kelompok hormon yang mempunyai fungsi pembungaan dan pembuahan. Sumber dihasilkannya adalah di daun dan buah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hormon:
Satu hormone mempunyai dua fungsi yang berbeda (mensupport dan menghambat) pada konsentrasi yang berbeda.

  1. Satu hormon yang sama, dengan konsentrasi yang sama, akan mempunyai pengaruh yang berbeda pada bagian tanaman yang berbeda.
  2. Hormon auksin menunjang pertumbuhan akar tapi menghambat pertumbuhan tunas dan juga menghambat pembungaan dan pembuahan.
  3. Hormon sitokinin menunjang pertumbuhan tunas tapi menghambat pertumbuhan akar dan menghambat pembungaan dan pembuahan.
  4. Hormon giberelin menunjang pembungaan dan pembuahan dan menunjang pembelahan sel akar dan tunas.
  5. Hormon dalam kelompok hormon yang sama akan bersifat sinergis atau saling menguatkan.
  6. Hormon dalam kelompok hormon yang berbeda akan bersifat saling melemahkan atau saling meniadakan.

Hal-hal tersebut harus selalu diingat karena sangat penting di dalam penerapannya.  Berdasarkan hal-hal tersebut ada beberapa kasus yang cukup penting di bicarakan:


  1. Bahwa di dalam membuat ramuan hormon, maka acuannya adalah bukan sebanyak-banyaknya kandungan hormone. Tapi lebih kepada ketepatan komposisi dan konsentrasinya.  karena semakin tinggi konsentrasinya justru akan menghambat pertumbuhan tanaman.
  2. Di dalam memberikan dorongan yang kuat dalam pertumbuhan suatu organ perlu diingat bahwa hormon tersebut akan menghambat  organ yang lain. Contoh: Kita bisa memacu pertumbuhan tunas dengan optimal dengan memberikan hormone sitokinin, akan tetapi harus diingat bahwa sitokinin akan menghambat akar. 
  3. Demikian pula sebaliknya bila kita memberikan hormon akar di dalam merangsang pertumbuhan akar harus diingat bahwa hormon akar tersebut akan menghambat tunas.
  4. Di dalam mendorong pertumbuhan suatu organ terdapat konsentrasi optimal, yaitu konsentrasi yang optimal di dalam memberikan pengaruh yang terbesar  dan setelah itu bila konsentrasi ditambah justru akan menghambat pertumbuhan.
  5. Harus diingat bahwa bila kita ingin mendorong pertumbuhan akar dan tunas secara bersamaan maka, hal tersebut justru menyebabkan pengaruh yang saling melemahkan dan meniadakan.
  6. Bila suatu tanaman sedang berbunga atau berbuah, maka jangan sekali-kali memberikan hormon akar karena akan menyebabkan gugur bunga atau buah.

 Pemanfaatan Hormon Organik

 Di sekitar kita banyak sekali bahan-bahan organik yang mengandung hormon tertentu. Seperti:

  1. Air seni (kencing) kambing; kelinci dll secara umum mengandung hormon auksin.
  2. kecambah (toge) mengandung auksin
  3. bawang merah mengandung auksin
  4. antanan mengandung sitokinin
  5. buncis mengandung sitokinin
  6. air kelapa mengandung auksin, sitokinin, giberelin
  7. sirih mengandung sitokinin
  8. kacang hijau mengandung giberelin
  9. eceng gondok mengandung giberelin
  10. pisang mengandung auksin dll

Hormon pertumbuhan pada hewan atau manusiapun memberikan dampak percepatan pertumbuhan secara umum. Seperti pil KB yang diketahui mengandung hormon pertumbuhan, mampu mempercepat pertumbuhan tanaman. Demikian pula (mohon maaf) air seni ibu hamil 4 bulan, sedang mengandung hormon pertumbuhan yang tinggi,  mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.          Pemanfaatan bahan-bahan alam / organik sangat penting karena dapat mengefisienkan biaya produksi dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Untuk mengetahui lebih lengkapnya mungkin bisa di lihat di buku-buku tentang buah-buahan dan sayuran ada kandungan hormon apa saja dan itu bisa dijadikan acuan di dalam membuat pupuk organik

Istilah Hormon

Zat pengatur tumbuh adalah hormone tapi sebenarnya ada juga zat lain yang dapat mengatur pertumbuhan yaitu Zat Penghambat. Beda antara zat penghambat dan hormone adalah kalau hormone bisa bersifat memacu dan menghambat, sedangkan zat penghambat hanya menghambat saja. Contoh zat penghambat adalah Paklobutrazol.
Ada hormon organik dan ada hormon sintetik. Hormon organik adalah hormon yang asli/ alamiah dihasilkan oleh tumbuhan atau mahluk hidup.  Hormon organi/alami tersebut bisa diproses secara modern (diisolasi) atau bisa juga dimanfaatkan secara langsung dalam bentuk pupuk organik.

Hormon ProAnalis dan Hormon Teknis

Hormon Pro Analis adalah hormone yang dibuat manusia bisa alami mapun sintetik yang diolah sedemikian rupa sehingga tingkat kemurniannya sangat tinggi.  Hormon ProAnalis ini biasanya dipakai pada skala laboratorium atau untuk keperluan Kultur Jaringan. Dan harganya sangat mahal. Tapi juga pengaruhnya cukup efektif.
Hormon teknis adalah hormone buatan manusia baik yang bersifat alami maupun sintetik yang tingkat kemurniannya tidak terlalu tinggi dan baisanya ada zat pembawanya berupa tepung atau lanolin dll.  Hormon ini biasa dipakai pada pertanian secara umum. Harganya jauh disbanding dengan hormone Proanalis.

Pengaruh Hormon Berdasarkan konsentrasinya


  1. Seluruh hormon dalam konsentrasi yang sangat rendah akan membantu pembelahan dan pembesaran sel / jaringan.
  2. Dalam konsentrasi tertentu, akan menstimulir tumbuhnya organ seperti organ tunas, organ akar organ bunga dll
  3. Kemudian bila ditingkatkan lagi, maka yang terjadi adalah menghambat pertumbuhan organ akan tetapi berdampak pada bertambahnya julah organ tapi ukurannya kecil-kecil.
  4. Bila konsentrasi ditingkatkan lagi maka yang terjadi terhambatnya tumbuhanya organ dan terbentuk seperti embrio organik atau tunas-tunas kecil
  5. Bila ditingkatkan lagi maka akan menghambat tumbuhnya organ dan akan membentuk kalus (sekumpulan sel yang tidak terorganisasi)
  6. Bila konsentrasi ditingkatkan lagi akan menyebabkan penyimpangan pertumbuhan morfologi secara tidak umum, yang biasanya satu batang bisa bercabang-cabang, berakar di batang dll. Seperti pembesaran buah tanpa melalui pembuahan
  7. Bila konsentrasi ditingkatkan terus akan berdampak pada terjadinya mutasi, yaitu perubahan pada level gen.
  8. Ditingkatkan lagi maka akan menyebabkan  “letal” (kematian). Seperti herbisida yang terbuat dari auksin.


Teknik Pemberian Hormon

Hormon sebaiknya diberikan langsung pada target kerjanya misal : hormon akar langsung pada media tanam, hormon tunas disemprotkan pada tajuk.  Hal yang perlu diingat adalah bahwa konsentrasi optimal hormon adalah konsentrasi optimal yang terjadi pada daerah target. Daerah target yang dimaksud adalah daerah perakaran dan daerah pertunasan. Berarti yang harus kita coba bayangkan adalah bila kita memberikan hormon dengan dosis tertentu, kemudian kita semprotkan pada tajuk, kira-kira berapa persennya kah yang akan bisa masuk dan sampai pada sel target? Berapa persen yang terbuang? Dan dari jumlah yang sampai pada sel target apakah konsentrasinya sudah mencapai konsentrasi yang optimal untuk menstimulir organ? Oleh sebab itulah teknik memberikan hormon berbeda dengan pemupukan. Pemberian hormon diberikan sampai terstimulirnya organ.  Kecuali tujuannya hanya untuk percepatan tumbuh dan membelahnya sel.
Tercapainya tujuan pemberian hormon tidak hanya tergantung  pada tercapainya konsentrasi optimal pada daerah target / sel target, tapi juga ditentukan oleh kandungan hormon endogen dari tumbuhan. Misal: bila kita ingin membungakan suatu tanaman, lalu kita memberikan hormon bunga dengan dosis tertentu, walaupun konsentrasi hormon giberelin sudah mencukupi tapi karena kandungan hormon endogen dari tanaman didominasi oleh hormon vetetatif yaitu hormon auksin dan sitokinin, maka konsentrasi hormon bunga tersebut akan menjadi lemah dan tidak mampu mendorong terbentuknya bunga atau buah.

Memperkirakan Dominasi Hormon Pada Tanaman

Dengan mengacu bahwa hormon tunas diproduksi diujung akar dan hormon bunga diproduksi diujung tunas, maka kita dapat mengevaluasi kandungan dan dominasi hormon dalam suatu tanaman dengan melihat bentuk/ morfologi tanaman.  Tanaman Adenium dengan bonggol yang besar dan tunas yang sedikit dan kecil menggambarkan dominasi hormon auksin.  Jenis tanaman yang merambat dengan tunas yang tumbuh dengan baik dan cepat menandakan dominasi hormon sitokinin.

Meramu Hormon

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa hormone bukanlah makanan, hormone bukanlah zat pembangun, tapi hormone itu hanyalah “profokator”. Jadi dampak dari hormone tidak akan nyata bila ternyata makanan atau energi untuk pertumbuhan tidak disediakan.  Energi untuk tumbuh bisa berupa bahan baku makanan, makanan setenangah jadi atau makanan siap pakai.  Makanan dalam hal ini adalah pupuk.  Sebaiknya pemberian pupuk dalam ramuan hormone harus mempertimbangkan duplikasi perlakuan pemupukan yang akan berdampak negative bagi tanaman. Agar tidak terjadi duplikasi pada perlakuan pemupukan maka pada ramuan hormone dapat diberikan makanan instant seperti: mioinositol, sorbitol, gula, madu, sari kurma dll,  Jadi sebaiknya untuk ramuan hormon dapat dicampurkan komponen lain yang diperlukan oleh tanaman.
Komponen lain yang dapat dicampurkan dalam ramuan hormon adalah vitamin, mineral, asam amino, asam lemak, bahan organic lain, enzim.  Bila kita ingin menggabungkan produk ramuan hormone ini dengan mikroba maka kita harus hati-hati dengan karakter mikroba, yang disatu sisi dapat membantu tapi disisi lain dapat mengkonsumsi bahan organic yang ada dalam ramuan hormone tersebut.  Sebenarnya kita dapat memberikan enzimnya secara langsung.  Hal lain yang harus diperhatikan dalam meramu hormone adalah bahwa sebagian besar ramuan ini adalah bahan organic, sehingga harus difikirkan benar jangan sampai terjadinya proses degradasi bahan organic karena factor lingkungan ekstrim atau rusaknya ramuan karena kontaminasi mikroba yang tidak diharapkan.

Sumber :
Edhi sandra Bogor,  10 April 2011

Produk Hormon Organik Nasa (Hormonik) 100cc



Rabu, 18 September 2019

ANTISIPASI KELANGKAAN PUPUK

KIAT ANTISIPASI KELANGKAAN PUPUK

Kelangkaan serta tingginya harga pupuk di beberapa daerah telah menyebabkan rendahnya aplikasi pemupukan. Kondisi ini mengakibatkan permasalahan yang serius dalam agribisnis perkebunan. Pada satu sisi pendapatan usaha berkurang karena menurunnya produksi, sedangkan di sisi lain biaya produksi dan biaya operasi mengalami peningkatan. Para pekebun memerlukan berbagai kiat untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk agar terhindar dari kebangkrutan usaha.

Direktur Jenderal Perkebunan, Achmad Mangga Barani dalam Seminar Nasional dan Temu Bisnis Pupuk untuk Perkebunan di Surabaya (12-13/11) mengatakan biaya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan sangat dipengaruhi input utama pupuk. Namun beberapa tahun terakhir karena kebutuhan terus meningkat keberadaannya semakin langka dan harganya makin tinggi mencapai 200-300%. Kelangkaan pupuk selain disebabkan produksi terbatas juga pendistribusiannya kurang baik. “Oleh karena itu perlu upaya untuk mengembangkan dan memproduksi pupuk substitusi dari pupuk an-organik yang ada, memperbaiki sistem distribusi pupuk serta menerapkan teknologi pupuk dan pemupukan yang lebih efisien” katanya.

Menurut Caretaker Direktur Eksekutif LRPI, Sumarjo Gatot Irianto, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian beberapa tahun kedepan akan memberikan perhatian dan dukungan teknologi terhadap kegiatan penyediaan benih dan bibit berkualitas, pupuk, alat dan mesin pertanian serta sarana produksi lain. Hal ini menjadi modal dasar bagi tercapainya peningkatan produktivitas tanaman, termasuk perkebunan. Seperti diketahui sampai saat ini produktivitas sebagian besar komoditas perkebunan Indonesia masih rendah.   
Luas areal sub sektor perkebunan kini mencapai 19,2 juta ha dengan produksi 27,6 juta ton. Sangat berperan sebagai penghasil devisa, penyerap tenaga kerja, penyedia bahan baku untuk industri, pendorong pengembangan wilayah, sehingga perlu didukung ketersediaan pupuk. Tercatat, persediaan pupuk dunia cukup, minimal sampai bulan Februari-April 2009 mendatang dan bersifat inelastis.

Dalam jangka pendek, sampai triwulan II 2009, rendahnya harga pupuk Urea dunia, merupakan peluang Indonesia melakukan impor untuk memenuhi defisit di pasar dalam negeri.  Untuk pupuk lainnya, perkiraan harga pupuk fosfat cenderung turun sampai tahun 2011. Sedangkan, pupuk kalium harganya di Asia Tenggara lebih tinggi dari daerah lain di dunia, perlu lobby antar stakeholders agar harga pupuk di Indonesia menyamai harga di China dan India.
Kelangkaan pupuk sebenarnya bersifat semu, persediaan pupuk dunia di negara-negara produsen cukup banyak, paling tidak dalam waktu dekat ini. Tetapi mengingat ketersediaan minyak dan gas bumi semakin menipis, dalam jangka panjang ketersediaan pupuk kimia terbatas dan harganya semakin mahal. Untuk pupuk subsidi, ketersediaannya dibatasi sumber dana yang mampu disediakan pemerintah. Kelangkaan pupuk subsidi masih akan muncul selama alokasi produksi lebih rendah daripada kebutuhan riil petani.

Alur distribusi pupuk saat ini, terdiri dari : Lini I (pabrik) – Lini II (UPP) – Lini III (Gudang Produsen – Distributor) – Lini IV (Pengecer Resmi) – Kelompok Tani/Petani. Kendaraan pengangkut, pengecer, dan distributor harus teregistrasi. Pengecer hanya boleh melepas pupuk kepada petani yang sudah terdaftar di wilayahnya. Tiap titik ada Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida. Pembelian pupuk bersubsidi mulai 1Januari 2009 menggunakan sistem tertutup. Oleh sebab itu petani yang tercatat dalam kelompok tani/badan usaha yang berhak mendapat alokasi pupuk bersubsidi.
Kebijakan pemerintah dalam mengatasi kelangkaan pupuk seperti pupuk subsidi diutamakan untuk tanaman pangan. Selanjutnya industri dan perkebunan terutama perkebunan rakyat dengan luas areal kurang dari 2 ha. Selain itu, produksi pupuk bersubsidi nasional adalah Urea, SP-36, ZA, NPK, dan pupuk organik. Terkait kemampuan pemerintah menyediakan dana subsidi, Menteri Pertanian menetapkan jumlah pupuk bersubsidi yang harus diproduksi.

Kebijakan nasional lainnya untuk mencukupi kebutuhan pupuk dalam negeri meliputi pembenahan database pasokan dan permintaan, pembatasan ekspor pupuk, pengaturan impor dan produksi, peningkatan efisiensi dan kapasitas pabrik pupuk. Selain itu, penggunaan pupuk yang efisien-berimbang-spesifik lokasi, pengalihan pupuk tunggal ke majemuk secara bertahap, penggunaan pupuk organik sebagai komplemen/substitusi sebagian pupuk anorganik, penggunaan pupuk lokal, penggunaan pupuk subsidi untuk program pemerintah (melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok/RDKK), dan pupuk non subsidi merujuk ke rekomendasi Puslit.
Kini telah terdaftar 843 formula pupuk anorganik, 337 formula pupuk organik dan pembenah tanah serta 23 formula pupuk hayati. Terdapat 310 perusahaan pemegang nomor pendaftaran. Untuk menjaga mutu dan efektivitas pupuk, perlu implementasi mekanisme pengaturan dan pengawasan yang lebih efektif.

Upaya-upaya teknis mensiasati kelangkaan pupuk di perkebunan. 


  1. Aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh Pusat dan Balai Penelitian lingkup LRPI. Seperti, efisiensi pemupukan melalui pemanfaatan pupuk majemuk, pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati dan organo-hayati serta rasionalisasi pemupukan. Teknologi ini terutama untuk subsektor perkebunan kelapa sawit, karet, teh, tebu, kopi dan kakao. 
  2. Rasionalisasi pemupukan dengan mengurangi dosis pupuk perlu hati-hati dengan memperhatikan neraca hara. Sebab, pemulihan kondisi tanaman setelah lama mengalami pengurangan dosis pupuk atau peniadaan pemupukan memerlukan daya, dana, dan waktu yang lama.  
  3. Menerapkan alternatif operasional antara lain pengelolaan nutrisi tanaman terpadu/PNTT (integrated plant nutrient management/IPNM) berupa pemanfaatan biomasa di dalam kebun dan membatasi keluarnya unsur hara dari dalam kebun semaksimal mungkin (limbah kulit buah, penaung, penutup tanah, integrasi ternak-tanaman). 
  4. Menggunakan pupuk majemuk, pupuk lepas terkendali dan pupuk alternatif. Selain itu, substitusi unsur hara yang dapat menggantikan fungsi fisiologis unsur yang bersangkutan dan pupuk organik yang diperkaya. 
  5. Menekan kehilangan unsur hara dapat dilakukan lewat teknik aplikasi, frekuensi, modifikasi jenis pupuk, dan peningkatan kapasitas retensi tanah. 
  6. Melakukan uji mutu pupuk. Penelitian terhadap kualitas pupuk yang beredar di pasar menunjukkan bahwa 45 sampai 81% di antaranya mempunyai kandungan hara kurang dari 90% dari yang tertera pada label. Pupuk-pupuk yang dipalsukan adalah KCl, ZA, SP-36, dan Urea. 
  7. Menggunakan Perangkat Uji Pupuk sebagai alat untuk mendeteksi keaslian pupuk. 


Last Updated ( Wednesday, 26 November 2008)

Pupuk Organik Nasa selalu Ready...



Cara membuat Pupuk Organik

CARA AJAIB MEMBUAT PUPUK ORGANIK ( KOMPOS ) 

Menghasilkan Pupuk Organik Dengan Praktis dan Biaya Murah

Telah ditemukan terobosan baru dalam pembuatan kompos/pupuk organik yang lebih sederhana, lebih murah dan hemat tenaga (bisa dibilang sebagai “Cara Ajaib“ dalam pembuatan kompos). Teknologi ini ditemukan oleh Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc.( Kepala Balai penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia ), dan telah dihadirkan oleh Bidang TPH Dispertanhut Purbalingga dalam acara “ Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik Kab. Purbalingga “ tanggal  6 Desember 2007 di Aula Hotel Kencana yang digadiri oleh Wakil Bupati Purbalingga.
            
Pupuk organik ternyata  bisa dibuat dengan biaya murah, hanya sekitar  Rp. 15.000,- per ton bahan baku yang mau dibuat kompos, tidak ada tambahan bahan/materi dan biaya lain selain untuk pembelian formula yang harganya hanya sekitar Rp. 15.000,- / kg untuk pembuatan 1 ton bokasi. Formula ini dinamai “PROMI” yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bentuknya seperti bubuk atau butiran tanah, hanya saja formula ini mengandung mikroba unggul asli Indonesia dan mikroba tsb bisa  bertahan hidup sampai 1 (satu) tahun. Hebatnya kompos/ pupuk organic yang dihasilkan dengan formula Promi kaya dengan dengan mikroba yang bisa mempercepat tunbuh tanaman serta mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Pengomposan dengan Promi lebih murah dan lebih praktis dari pada pengomposan dengan EM4, karena ada beban yang perlu ditanggung oelh petani bila membuat kompos dengan EM4 antara lain teknologi EM4 memerlukan bahan–bahan tambahan yang bisa membuat biaya pengomposan cukup tinggi dan membutuhkan tenagas lebih banyak serta tempat yang luas. Kalau pengomposan memakai promi punya kelebihan : tidak menggunakan bahan tambahan, hemat tempat (tinggi tumpukan hanya cukup 1,5 m) ,biaya lebih murah dan lebih mudah/praktis ( semudah membuat tempe kedelai ). 
Seiring dengan program percepatan penerapan pupuk organik di Purbalingga, sudah selayaknya teknologi pembuatan pupuk organik dengan formula PROMI ini perlu disosialisasikan, kqarena para petani bias membuat sendiri pupuk organic/kompos-nya dengan hanya membeli PROMI untuk 1 ton   bahan bakau pembuatan kompos, yang tentunya sangat lebih murah daripada parqa petani membeli pupuk organic di pasaran yang relative lebih mahal. Apalagi  tidak memerlukan tambahan bahan/materi seperti pada teknologi EM4 ( perlu tambahan dedak dan molase ), cukup dengan jerami di lahan-lahan-lahan  sawah  yang sangat berlimpah. (Ir. Arief Khoiruddin. MSi, bersumber dari paparan Dr.Ir. Darmono pada acara "Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik" tanggal 6 Desmber 2007 di Aula Hotel Kencana Purbalingga). 



Selasa, 05 April 2011

Pengembangan Pertanian Organik

Saat ini sudah mulai di kembangkan lagi sistem Pengembangan Pertanian Organik karena sudah rusaknya tanah pertanian kita.  Sebelum membahas Pengembangan Pertanian Organik baiklah kita bahas Sistem pertanian an organ atau konvensional.

Sistem Pertanian Konvensional

Sistem pertanian tradisional, meskipun akrab lingkungan tetapi tidak mampu mengimbangi laju kebutuhan pangan dan sandang yang meningkat lebih tajam dibandingkan dengan laju pertambahan penduduk. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak temuan-temuan baru yang kemudian menggeser sistem tradisional menjadi sistem pertanian konvensional.

Sistem pertanian konvensional terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara global, khususnya di bidang pertanian. Sebagai contoh, produksi gandum India berlipat tiga kali dalam kurun waktu 20 tahun, Columbia mampu meningkatkan produksi padi sampai dua kali lipat selama 5 tahun, dan Indonesia mampu berswasembada pangan (terutama beras) sejak 1983 hingga 1997. Tetapi sistem pertanian konvensional tidak terlepas dari resiko dampak negatif. Meningkatnya kebutuhan pangan seiring laju pertambahan penduduk, menuntut peningkatan penggunaan bahan kimia pertanian seperti pupuk dan pestisida.

Pertanian Konvensional Cenderung Menggunakan Masukan dari Luar
  • Beban lingkungan
  • Ketergantungan masukan dari luar tinggi

Schaller (1993) menyebutkan beberapa dampak negatif dari sistem pertanian konvensional:
  • Pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian dan sedimen.
  • Membahayakan kesehatan manusia dan hewan, baik karena pestisida maupun bahan aditif pakan.
  • Pengaruh negatif senyawa kimia pertanian tersebut pada mutu dan kesehatan makanan.
  • Penurunan keanekaragaman hayati termasuk sumber genetik flora dan fauna yang merupakan modal utama pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).
  • Perusakan dan pembunuhan satwa liar, lebah madu, dan jasad berguna lainnya.
  • Meningkatnya daya ketahanan organisme pengganggu terhadap pestisida.
  • Merosotnya daya produktivitas lahan karena erosi, pemadatan lahan, dan berkurangnya bahan organik.
  • Ketergantungan yang makin kuat terhadap sumber daya alam tidak terbaharui (non-renewable natural resources).
  • Resiko kesehatan dan keamanan manusia pelaku pekerjaan pertanian.
Jelaslah bila kegiatan pertanian konvensional anorganik tidak dikurangi, maka lingkungan hidup akan semakin merosot kualitasnya. Biaya produksi sarana pertanian konvensional pun akan semakin mahal, sehingga sistem pertanian tersebut tidak akan bermanfaat lagi.


skema pertanian organik

Pertanian Organik

Sistem pertanian organik ini berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi dengan memperhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan kualitas yang baik bagi hasil pertanian maupun lingkungan.
Menurut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements), tujuan yang hendak dicapai dengan penggunaan sistem pertanian organik adalah:
  • Menghasilkan bahan pangan dengan kualitas nutrisi tinggi serta dalam jumlah cukup.
  • Melaksanakan interaksi efektif dengan sistem dan daur alamiah yang mendukung semua bentuk kehidupan yang ada.
  • Mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam sistem usaha tani dengan mengaktifkan kehidupan jasad renik, flora dan fauna, tanah, tanaman serta hewan.
  • Memelihara serta meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
  • Menggunakan sebanyak mungkin sumber-sumber terbarui yang berasal dari sistem usaha tani itu sendiri.
  • Memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didaur ulang baik di dalam maupun di luar usaha tani.
  • Menciptakan keadaan yang memungkinkan ternak hidup sesuai dengan perilakunya yang hakiki.
  • Membatasi terjadinya semua bentuk pencemaran lingkungan yang mungkin dihasilkan oleh kegiatan pertanian.
  • Mempertahankan keanekaragaman hayati termasuk pelestarian habitat tanaman dan hewan.
  • Memberikan jaminan yang semakin baik bagi para produsen pertanian (terutama petani) dengan kehidupan yang lebih sesuai dengan hak asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar serta memperoleh penghasilan dan kepuasan kerja, termasuk lingkungan kerja yang aman dan sehat.
  • Mempertimbangkan dampak yang lebih luas dari kegiatan usaha tani terhadap kondisi fisik dan sosial (Untung, 1997).
Pada prinsipnya pertanian organik bersahabat dan selaras dengan lingkungan Merupakan sistem pertanian yang efisien apabila dilihat dari perbandingan antara output persatuan unit input, meskipun dilihat dari output perhektarnya masih lebih rendah dari pada sistem pertanian konvensional.

Pertanian Organik dengan Siklus Unsur Tertutup

  • Memperbaiki struktur tanah dan daya simpan air
  • Tidak ada pencemaran air

Ekosistem Pertanian

Ekosistem pertanian adalah jaringan kompleks yang menghubungkan hewan, tumbuhan dengan bentuk kehidupan lainnya pada lingkungan pertanian.

Jaring-jaring / Rantai Makanan Sederhana

Komponen-komponen biota dari setiap ekosistem berperan sebagai rantai-rantai hara atau rantai makanan (food chains). Hara yang diambil oleh tumbuhan seimbang dengan hara yang kembali ke tanah dalam bentuk bagian-bagian tumbuhan mati dan hara tumbuhan hidup yang terbasuh oleh air hujan (Croall dan William, 1991).
Petani yang menerapkan metode pertanian ekologis (organik) harus menguasai teknik-teknik yang memungkinkan terbentuknya ekosistem baru serta berkelanjutan, mendukung aliran energi secara alami sesuai dengan cara kerja alam. Untuk itu perlu diketahui beberapa hal tentang:
  • Tanaman yang dapat tumbuh berdekatan
  • Tanaman dan bakteri yang dapat mengikat nitrogen
  • Tanaman yang baik bila ditanam berurutan
  • Bagaimana hewan bisa berkembang tanpa anti biotik dan hormon
  • Bagaimana benalu dan hama bisa teratasi secara alami
  • Bagaimana nitrogen dapat dipisahkan dari pupuk dan buangan limbah rumah tangga
  • Bagaimana menjaga agar hama dan penyakit tanaman tetap seimbang di alam

Kehidupan di Dalam tanah

Tanah mempunyai peranan penting dalam perombakan bahan organik. Cacing-cacing, serangga- serangga kecil, dan mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang bertanggung jawab dalam proses pembusukan, terdapat dalam tanah. Organisme tersebut bisa mendapatkan energi dari bahan organik yang telah mati dan menguraikan bahan tersebut menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuh-tumbuhan. Organisme tanah mengubah bahan tanaman yang sudah mati menjadi nutrisi yang berharga.

Cara Hidup Cacing Tanah

Hewan-hewan tanah hidup di ruang hampa di tanah yang kadang-kadang hewan-hewan tersebut menggali sendiri tempat hidupnya (cacing). Beberapa mikroorganisme memerlukan air terikat yang dipakai untuk bergerak, namun ada yang hanya perlu kelembaban saja (contohnya cacing, fungi). Mikroorganisme membutuhkan oksigen, karena itu kalau kondisi tanah padat atau terlalu berlumpur mereka tidak bisa hidup.

Beban Tanah

Ada beberapa pengaruh sampingan dari kegiatan manusia terhadap tanah yang harus diperhatikan, seperti:
  • Teknis/mekanis: Pembangunan perumahan baru, konstruksi jalan, pertambangan bijih besi, pelapukan tumbuh-tumbuhan.
  • Fisik: Mekanisasi di pertanian (struktur remah rusak), perubahan iklim (efek rumah kaca, periode tandus).
  • Kimia: Tempat sampah, pupuk kimia, pestisida, gas kotor, zat yang mencair oleh karena hujan.
Akibat-akibat buruk dari kegiatan tersebut adalah terjadinya perubahan kehidupan seluruh makhluk hidup sampai mereka mati. Contohnya: erosi, pelumpuran tanah, penurunan kesuburan tanah 

Alasan Mengapa Organik 

Kita menghadapi kenyataan bahwa kita terlahir di sebuah zaman yang centang-perenang! Lingkungan yang rusak parah oleh sampah, plastik, pestisida, limbah pabrik, asap kendaraan, dan berbagai sumber pencemar di air, tanah dan udara, telah menghacurkan keharmonisan hubungan timbal balik antara manusia dan makhluk lain ciptaan-Nya. Penambahan penduduk yang sangat cepat menciptakan beban berat bagi alam diluar kemampuan daya dukungnya.
Akibat langsung yang kita rasakan kini adalah turunnya kualitas hidup, hingga pada tingkat yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Sebagian kita sulit mendapat air bersih dan sehat. Tempat tinggal dengan udara bebas polusi sangat sulit di dapat. Makanan bercampur bahan additive berbahaya di mana-mana. Sayur, buah, hasil pertanian dan peternakan terkontaminasi racun pestisida, pupuk kimia dan ceceran limbah dari sekitarnya.
“Kembali ke Alam” adalah seruan yang kadang hanya terdengar sayup-sayup, bahkan seringkali diartikan dengan sangat dangkal.
Gerakan Organik sebagai langkah kembali ke alam adalah sebuah gerakan perbaikan mutu hidup secara holistik. Organik bukan sekedar bertani tanpa pupuk dan pestisida kimia. Organik adalah tidak mencemari lingkungan dan tidak pula tubuh kita. Organik adalah mengembalikan ke alam apa-apa yang telah kita ambil darinya. Organik adalah tentang sebuah usaha membangun yang berkelanjutan. Dan terlebih lagi, Organik adalah berarti tidak mencuri masa depan bumi dan generasi mendatang.
Pertanian organik melindungi tanah
Pengomposan adalah suatu proses penguraian bahan organik, seperti sisa-sisa tanaman, sampah dapur, dan kotoran hewan menjadi pupuk kompos. Kompos atau pupuk organik merupakan salah satu bahan utama dalam pertanian organik. Kompos mempunyai beberapa manfaat terhadap kondisi tanah yakni:
  • Memperbaiki tanah berpasir maupun tanah liat menjadi berstruktur baik
  • Mengembalikan unsur hara yang diambil oleh tanaman
  • Memberikan nutrisi kepada organisme yang hidup dalam tanah
Pemulsaan adalah penutupan permukaan tanah dengan bahan-bahan sisa tanaman (serasah) seperti potongan-potongan daun, ranting, dan serbuk gergaji. Hasil akhir dari proses ini adalah terbentuknya pupuk serasah. Pemulsaan dan pupuk serasah berfungsi untuk:
  • Menghemat air
  • Mencegah erosi
  • Menghambat pertumbuhan gulma
  • Menjaga keseimbangan suhu tanah dan lapisan udara di dekat tanah sehingga tanah tidak menjadi terlalu panas.
  • Menjaga sari-sari makanan dalam tanah terhadap pencucian dan penghanyutan oleh air hujan.
  • Menjaga kondisi tanah tetap remah dan tidak cepat padat.
  • Mencegah penyakit tanaman yang timbul akibat percikan tanah oleh air hujan.
  • Menjadi sumber bunga tanah atau humus.
  • Meningkatkan mutu hasil pada tanaman misalnya nanas, dan sayuran.
  • Memperlancar kegiatan jasad renik tanah seperti cacing tanah yang sangat membantu petani  alam penyuburan tanah (Annonimous, 1999)

Serangga Hama dan Musuh Alami

Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam, sebagai contoh Wereng Coklat betina memproduksi banyak turunan, tetapi karena aksi musuh alami (predator-predator, parasit-parasit, dan penyakit), hanya sekitar 1 atau 2 ekor bertahan hidup setelah satu generasi. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida yang hanya satu macam.  

Perbedaan Sistem Penanaman pada Pertanian Organik dengan Pertanian Konvensional

No
Proses
Pertanian Konvensional
Pertanian Organik
1.
Persiapan benih
·      Benih berasal dari rekayasa genetik
·      Benih berasal dari pertumbuhan tanaman yang alami
2.
Pengolahan tanah
·      Sering menggunakan traktor mekanisasi
·      Maksimum pengolahan tanah menyebabkan pemadatan tanah dan matinya beberapa organisme
·      Memperkecil kerusakan tanah oleh traktor
·      Minimum pengolahan tanah memacu perkembangbiakan organisme tanah dan aerasi tanah terjaga
3.
Pesemaian/ persiapan bibit
·      Bibit sering diperlakukan dengan bahan kimia sintetik (pestisida, pupuk kimia)
·      Pertumbuhan bibit dibuat secara alami
4.
Penanaman
·      Monokultur, hanya menanam satu jenis tanaman, 
·      Rotasi tanaman dilakukan secara total dari satu jenis tanaman tersebut
·      Tidak ada kombinasi tanaman
·      Multikultur
·      Rotasi tanaman secara bertahap
·      Kombinasi tanaman dalam satu luasan lahan tertentu
·      Companion planting (tanaman pendamping)
·      Penanaman tanaman habitat predator, tanaman pagar, penolak hama, penarik hama
·      Tanaman pupuk hijau pestisida hayati, obat-obatan
5.
Pengairan/ penyiraman tanaman
·      Dapat menggunakan sumber air dari mana saja
·      Menggunakan air yang bebas dari bahan kimia sintetis
6.
Pemupukan
·      Penggunaan pupuk kimia lebih dominan
·      Menggunakan pupuk organik
7.
Pengendalian hama, penyakit dan gulma
·      Penggunaan pestisida kimia lebih dominan
·      Kunci pengendalian hama penyakit berdasarkan keseimbangan alami
8.
Panen dan pasca panen
·      Mengandung residu bahan kimia sintetis
·      Perlakuan pasca panen dengan bahan kimia
·      Hasil panen sehat bagi konsumen
·      Tidak diperlakukan dengan bahan kimia

Kombinasi Tanaman

Kombinasi tanaman adalah gabungan dua atau lebih tanaman dalam satu lahan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penanaman tanaman campuran atau kombinasi tanaman adalah sebagai berikut: umur tanaman, bentuk tubuh tanaman, toleransi tanaman terhadap cahaya dan naungan, kebutuhan nutrisi, bentuk perakaran, dan companion planting. 
Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah perlindungan tanaman produktif :
  • Tanaman Perangkap Hama berfungsi menarik hama agar menyerang tanaman perangkap, dan menjauhi tanaman utama sehingga kerusakan tanaman dapat dikurangi. Hama yang mengumpul dapat ditangkap untuk makanan ikan, sedangkan tanaman perangkapnya sendiri yang rusak oleh hama dapat dicabut lalu dibakar.
  • Tanaman Penolak Hama akan melindungi tanaman di dekatnya dengan bau-bauan yang dikeluarkannya, bentuk dan warna daun/bunga yang khas yang tidak disukai hama, sehingga hama akan menjauh dari tanaman utama.
  • Penghalau Angin (Windbreaker) mengurangi resiko rebahnya tanaman oleh angin yang kencang, disamping itu berfungsi pula sebagai habitat predator, untuk pakan ternak, atau sebagai pestisida hayati.

Kemasyarakatan

Sistem pertanian dengan menggunakan metode tumpang sari ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian secara berkesinambungan. Karena tanaman-tanaman yang bervariasi dan ditanam berturut-turut lebih ekonomis dalam penggunaan unsur hara dibandingkan pada sistim monokultur. Dan dengan tidak menggunakannya bahan kimia sintetis maka kesehatan para petani, kelompok orang yang mengusahakan pertanian organik tersebut, dan konsumen hasil pertanian organik terjamin bebas dari pencemaran. Biaya produksi pun dapat ditekan karena tidak menggunakan bahan kimia yang harganya semakin mahal. Banyak petani organik mampu menjual hasil bumi mereka dengan harga yang sama dengan hasil petani kimia (konvensional), bahkan banyak pula yang menemukan pembeli yang bersedia membayar lebih mahal.

Pengembalian Kesuburan Tanah

Berbicara mengenai kesuburan tanah tentunya tidak terlepas dari masalah pupuk. Pupuk yang baik adalah pupuk yang dapat memberikan kesuburan tanah secara berkesinambungan dan dapat meningkatkan produktifitas tanah itu sendiri. Pupuk organik yang berasal dari limbah pertanian dan limbah peternakan adalah pupuk yang dapat meningkatkan kesuburan tanah secara terus menerus. Sedangkan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tidak dapat meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan karena pupuk kimia dapat merusak tanah dalam jangka waktu tertentu.
Alam di sekitar kita telah menyediakan sarana bagi petani untuk membuat pupuk yang bermutu guna meningkatkan kesuburan tanah. Para petani jaman dulu (sebelum Revolusi Hijau) telah memberikan contoh yang cukup baik mengenai teknik teknik pembuatan pupuk secara alami. Sekarang, adalah tugas kita untuk memadukan antara teknik teknik tradisional dengan teknologi baru agar menghasilkan pupuk organik yang berkualitas. Sebagai contoh, pembuatan kompos secara alami (tradisional) membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu antara 3   6 butan. Akibatnya, kompos baru dapat digunakan sebagai pupuk tanaman setelah masa tersebut. Tetapi sekarang dengan adanya metode penambahan 'mikroba yang menguntungkan' (effective microorganisms), teknik pembuatan kompos secara alami (tradisional) dapat diperbaharui sehingga proses pengomposan dapat berlangsung secara lebih cepat dengan hasil akhir yang berkualitas lebih baik. Adapun standar waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kompos dengan teknologi penambahan mikroba ini jauh lebih singkat daripada teknik pembuatan kompos secara alami (tradisional), yakni sekitar 4 6 minggu. Bahkan, jika mikroba yang ditambahkan berupa jenis yang sangat 'menguntungkan', kompos sudah dapat dihasilkan dalam waktu 3   5 hari saja.
Sebenarnya, kompos bukan merupakan barang yang baru di dalam dunia pertanian. Tetapi, masih banyak petani yang tidak mengetahui pentingnya proses pengomposan limbah organik bagi kesuburan tanah. Beberapa petani menilai bahwa pengomposan merupakan pekerjaan yang mahal, rumit, dan sia sia. Bahkan, ada petani yang beranggapan bahwa praktek membakar jerami lebih baik daripada praktek pengomposan jerami untuk mengatasi penumpukan limbah pertanian di lahan mereka. Sedangkan kalangan petani yang telah mengerti tentang manfaat dari bahan bahan organik yang telah dikomposkan, beranggapan bahwa praktek pengomposan yang baik dan benar dapat menghasilkan pupuk organik yang dapat menggantikan pupuk kimia secara bertahap. Selanjutnya, penggunaan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia akan meringankan biaya produksi petani dengan cara melepaskan ketergantungan mereka kepada pupuk kimia yang harganya semakin lama semakin mahal. 

Salah satu Solusi
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi Petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat kita saksikan, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya anorganik) di laboratorium.
Kembali ke alam adalah solusi tepat yang harus kita kerjakan sekarang ini. Paradigma pertanian kita harus kita ubah secara radikal. Kita harus kembali pada konsep pertanian kita di tahun 1930-an. Khususnya mengenai penggunaan pupuk dan pembasmi hama dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminimalisasi sampai tingkat yang mendekati 0. Penggunaan pupuk kita kembalikan lagi pada penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau (pupuk organik).
Memang mungkin akan timbul pertanyaan mengenai efisiensi. Karena untuk kembali ke pupuk kandang dan pupuk hijau, Petani kita akan punya alasan keengganan yang cukup mendasar. Penggunaan pupuk kandang akan menyedot jumlah tenaga kerja dan waktu yang banyak karena untuk aplikasi pupuk kandang di lahan, dibutuhkan jumlah pupuk kandang yang sangat banyak (bisa 20 kali lebih banyak dari pupuk kimia). Tentu saja ini berhubungan erat dengan hitung-hitungan ekonomis. Pertanian seperti ini akan menjadi "high cost economy". Dan ini harus dicarikan solusinya.
Dengan semakin majunya teknologi pertanian dan mikro biologi, sebetulnya saat ini sudah ada pupuk organik yang dosis aplikasinya sama dengan pupuk kimia. Jadi petani tidak perlu lagi membawa berpuluh-puluh ton pupuk kandang untuk memupuk lahan seluas 1 hektare (dan pupuk ini sekarang sudah bisa diproduksi oleh orang Indonesia).
Sebagai contoh, untuk memupuk areal penanaman padi seluas 1 hektare, hanya dibutuhkan 10-15 botol (5 - 7,5 Kg) pupuk organik untuk satu kali musim tanam. Sedangkan untuk tanaman sayuran pada lahan kering, hanya dibutuhkan 10 s/d 20 botol pupuk organik untuk satu kali musim tanam per hektare-nya (tidak seperti aplikasi pupuk kandang, yang biasanya menghabiskan 15 ton s/d 20 ton pupuk kandang untuk setiap kali musim tanam per hektare-nya).
Beberapa contoh pupuk organik karya anak bangsa adalah produk yang dikeluarkan oleh PT. Natural Nusantara, diantaranya; Pupuk Organik Cair (POC NASA), Pupuk Organik Padat (POP Supernasa), Hormonik, PESTONA (Pestisida Organik), GLIO (Fungisida organik/Agensy Hayati), dan produk untuk peternakan, perikanan, serta kesehatan bagi manusia.

FILOSOFI NATURAL NUSANTARA

Nusantara ibarat rangkaian zamrud di katulistiwa. Demikian kata-kata yang menggambarkan betapa berharganya Nusantara yang rangkaian pulau-pulaunya diibaratkan batu mulia paling berharga. Sebuah ungkapan yang sangat bermakna.
Ungkapan di atas disadari betul maknanya oleh para pejuang kita jauh sebelum Belanda hadir 14 abad yang lalu, pejuang Sriwijaya mewujudkan rangkaian rantai manikam menjadi sebuah untaian yang sangat indah yaitu Indonesia I. Tujuh abad yang lalu pejuang Majapahit merangkainya kembali dengan mewujudkan Indonesia II. Setengah abad yang lalu bangsa ini sekali lagi mengikrarkan diri kembali mewujudkan Indonesia menjadi Indonesia yang berabad-abad lalu telah dirintis oleh nenek moyang kita.
PT. Natural Nusantara berdiri karena keinginan kami untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan alam Indonesia yang dari sisi jumlah maupun jenisnya beraneka macam. Menurut kami itulah modal terbesar bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Visi kami menuju Indonesia Makmur raya kami wujudkan dalam misi kami mengelola Karya Anak Bangsa Untuk Indonesia, sesuai dengan semboyan kami Bersama Menuju Masa Depan Lebih baik.
Kami sadar bahwa diperlukan energi yang sangat besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut sendirian. Oleh karena itu kami berusaha membangun sinergi, menjalin simpul, dengan siapapun yang sepakat dengan apa yang kami cita-citakan.
Tak seorangpun dapat menyangkal bahwa Indonesia adalah negara agraris dan maritime terluas di dunia. Luas lahan pertanian aktif lebih dari 50.000.000 (lima puluh juta) hektar dan panjang pantai lebih dari 80.000 km, menjadikan Indonesia pemilik pantai terpanjang di dunia. Dengan potensi yang luar biasa, adalah sangat layak Indonesia makmur raya menjadi cita-cita.
Lebih dari 3 abad lalu negara kita telah menjadi incaran bangsa-bangsa lain yang mencium oroma rempah-rempah kita. Adalah naif jika Belanda dan Portugis bahkan Inggris jauh-jauh berebut Nusantara jika bukan karena kekayaan hasil pertaniannya. Kekayaan yang dapat menjadikan Belanda dan Portugis negara yang dikenal miskin di Eropa menjadi negara maju.
Belanda membuktikan bahwa dengan mengelola pertanian Nusantara dengan benar, maka kemakmuran yang didapat. Di tangan bangsa sendiri produksi tanaman tidak mampu mencapai potensinya, kualitas rendah dan lingkungan rusak serta keberlanjutan dipertanyakan. Setelah berhasil swasembada beras tahun 1984, 5 tahun kemudian Indonesia menjadi negara pengimpor beras, dan 10 tahun kemudian hampir semua produk-produk pertanian asing masuk membanjiri Indonesia. Maka mengalirlah rupiah ke luar negeri dan petani kita menjadi miskin.
Persoalan kualitas, jumlah dan keberlangsungan hasil produksi pertanian hasil petani Indonesia selalu menjadi tantangan. Penyebab utama adalah pengelolaan teknologi yang mahal dan tidak tepat guna. Kita seringkali menganggap bahwa teknologi yang datang dari luar negeri selalu lebih baik dari teknologi hasil karya bangsa sendiri.
Kami mengelola teknologi hasil karya anak bangsa yang mampu mendukung peningkatan kualitas, kuantitas dan keberlanjutan pertanian Indonesia. Yaitu Teknologi yang menghasilkan tanaman padi dengan anakan 54 anakan bahkan lebih, sudah lebih 15 ton per hektar, cabai merah panjang 25 cm, semangka bobot 15 kg per buah, ayam potong dipanen 1 minggu lebih cepat, Ikan Bandeng dengan bobot 3 ekor per kg, dan masih banyak lagi bukti pencapaian hasil di seluruh Nusantara, yang membuka peluang kembalinya kejayaan pertanian Indonesia, yang pada akhirnya tercapai Indonesia Makmur Raya. 

PUSTAKA

Andoko, Agus Drs, “Budi Daya Padi Secara Organik”, Penebar Swadaya, Jakarta 2002.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, “Teknologi Pembuatan Pupuk Organik (Kompos) dari Sampah Kota”, Jakarta 1998.
Kardinan, Agus Ir, M.Sc, “Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi”, Penebar Swadaya, Jakarta 2002.
Mulat, Tri, “Pertanian di Internet”, Penebar Swadaya, Jakarta 2003.
Setiawan, Dharma Ir, “Teknik Budidaya Pertanian Organik dan Peluang Pasar”, Makalah penyuluhan oleh MAPORINA.
Suhandi, Ir, “Pemanfaatan Limbah Organik untuk Pupuk”, Makalah.
Utoyo, Ir. “Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Dengan Pemanfaatan Agensia Hayati”, Makalah
Distributor Inti Nasa, Support tools Diamond Networ PT. Natural Nusantara
www.amanishop.com
www.wwfcanada.org
www.ifoam.org